Selamat datang

Terima kasih sudah berkunjung di blog yang sederhana ini.

Hiburan

Seru itu seperti ini, memberi makan secara langsung

Bersepeda

Hari libur diisi dengan kegiatan olahraga, jelas lebih sehat daripada bermalas-malasan

Sunset

Menikmati suasana sunset di sawah, jauh dari hiruk pikuk kota.

Menghirup udara pagi

Segarnya udara pagi

Sunday, October 12, 2014

6 Makanan Ini Berbahaya Bagi Kucing


Percaya atau tidak, ternyata di dunia ini ada makanan sehat dan dianggap aman, namun bisa membahayakan kucing hingga pada tahap kematian. Berikut ini adalah makanan-makanan sehat yang berpotensi untuk membunuh kucing :

Kismis
Kismis merupakan makanan yang disukai banyak orang. Tapi, makanan ini sangat tidak dianjurkan untuk diberikan pada kucing karena selain bisa mengakibatkan gagal ginjal, kucing juga bisa menderita keracunan, diare, dan tidak nafsu makan akibat makanan ini.

Tulang
Banyak sekali orang Indonesia yang memberikan makan kucing berupa tulang. Padahal, tulang yang masih mengandung lemak merupakan makanan yang berbahaya bagi kucing karena bisa mengakibatkan keracunan dan gangguan pencernaan, bahkan kematian pada kucing.

Telur Mentah
Telur mentah adalah makanan yang mengandung bakteri Salmonella dan E. coli yang tinggi. Kedua bakteri ini sangat berbahaya bagi sistem pencernaan kucing. Selain itu, kandungan avidin yang terdapat di dalamnya pun bisa menghentikan penyerapan vitamin B.

Krim dan Susu
Krim dan susu merupakan asupan yang tidak baik bagi kucing. Hal ini disebabkan oleh ketidakmampuan sistem pencernaan kucing untuk memecah laktosa yang terkandung di dalam krim dan susu. Akibatnya, kucing akan menderita diare, kelelahan, dehidrasi, sampai pada tahap kematian.

Kafein
Kafein merupakan zat yang bisa menyebabkan dehidrasi pada kucing. Zat tersebut juga mampu merangsang gangguan jantung dan sistem syaraf sampai pada tahap kematian hewan peliharaan ini.

Mushroom
Jamur liar yang bisa tumbuh di mana saja sangat berpotensi menimbulkan kematian pada kucing. Kucing yang mengonsumsi makanan ini akan menderita kejang-kejang, gangguan hati, otak, dan syaraf hingga akhirnya mati.

sumber

Asal-Usul Mengapa 1 hari = 24 jam, 1 jam = 60 menit, 1 menit = 60 detik




Pernahkah kita bertanya-tanya mengapa dalam 1 hari ada 24 jam, dalam 1 menit ada 60 detik, dan dalam 1 detik ada 60 menit? Inilah jawabannya.

Sistem bilangan yang paling banyak digunakan manusia saat ini adalah sistem desimal, yaitu sebuah sistem bilangan berbasis 10. Namun untuk mengukur waktu kita menggunakan sistem duodesimal (basis 12) dan sexadesimal (basis 60). Hal ini disebabkan karena metode untuk membagi hari diturunkan dari sistem bilangan yang digunakan oleh peradaban kuno Mediterania. Pada sekitar tahun 1500 SM, orang-orang Mesir kuno menggunakan sistem bilangan berbasis 12, dan mereka mengembangkan sebuah sistem jam matahari berbentuk seperti huruf T yang diletakkan di atas tanah dan membagi waktu antara matahari terbit dan tenggelam ke dalam 12 bagian. Para ahli sejarah berpendapat, orang-orang Mesir kuno menggunakan sistem bilangan berbasis 12 didasarkan akan jumlah siklus bulan dalam setahun atau bisa juga didasarkan akan banyaknya jumlah sendi jari manusia (3 di tiap jari, tidak termasuk jempol) yang memungkinkan mereka berhitung hingga 12 menggunakan jempol. 

Jam matahari generasi berikutnya sudah sedikit banyak merepresentasikan apa yang sekarang kita sebut dengan “jam”. Sedangkan pembagian malam menjadi 12 bagian, didasarkan atas pengamatan para ahli astronomi Mesir kuno akan adanya 12 bintang di langit pada saat malam hari.
Dengan membagi satu hari dan satu malam menjadi masing-masing 12 jam, maka dengan tidak langsung konsep 24 jam diperkenalkan. Namun demikian panjang hari dan panjang malam tidaklah sama, tergantung musimnya (contoh: saat musim panas hari lebih panjang dibandingkan malam). Oleh karena itu pembagian jam dalam satu hari pun berubah-ubah sesuai dengan musimnya. Sistem waktu ini disebut dengan sistem waktu musiman. Pada sekitar tahun 147-127 SM, seorang ahli astronomi Yunani bernama Hipparchus menyarankan agar banyaknya jam dalam satu hari dibuat tetap saja yaitu sebanyak 24 jam, disebut dengan sistem waktu equinoctial. Namun sistem ini baru diterima secara luas oleh saat ditemukannya jam mekanik di Eropa pada abad ke-14.

Eratosthenes (276-194 SM), seorang ahli astronomi Yunani lainnya membagi sebuah lingkaran menjadi 60 bagian untuk membuat sistem geografis latitude. Teknik ini didasarkan atas sistem berbasis 60 yang digunakan oleh orang-orang Babilonia yang berdiam di Mesopotamia, yang jika ditilik lebih jauh diturunkan dari sistem yang digunakan oleh peradaban Sumeria sekitar 2000 SM. Tidak diketahui dengan pasti mengapa menggunakan sistem bilangan berbasis 60, namun satu dugaan mengatakan untuk kemudahan perhitungan karena angka 60 adalah merupakan angka terkecil yang dapat dibagi habis oleh 10, 12, 15, 20 dan 30.

Satu abad kemudian, Hipparchus memperkenalkan sistem longitude 360 derajat. Dan pada sekitar 130 M, Claudius Ptolemy membagi tiap derajat menjadi 60 bagian. Bagian pertama disebut dengan partes minutae primae yang artinya menit pertama, bagian yang kedua disebut partes minutae secundae atau menit kedua, dan seterusnya. Walaupun ada 60 bagian, yang digunakan hanyalah 2 bagian yang pertama saja dimana bagian yang pertama menjadi menit, dan bagian yang kedua menjadi detik. Sedangkan sisa 58 bagian yang lainnya membentuk satuan waktu yang lebih kecil daripada detik.

Sistem waktu ini membutuhkan waktu berabad-abad untuk tersebar luas penggunaannya. Bahkan jam penunjuk waktu pertama yang menampilkan menit dibuat pertama kali pada abad ke-16. Sistem waktu ini digunakan hingga sekarang oleh kita manusia modern.

Bagaimana Tahi Lalat Terbentuk? Ini Jawabannya

Setiap orang di dunia ini pasti memiliki tahi lalat. Setiap oarang rata-rata memiliki sekitar 10 sampai 30 buah tahi lalat. Tahi lalat memang bukan sesuatu yang berbahaya, namun pada beberapa kasus tahi lalat bisa sangat berbahaya. Nah! Pertanyaanya adalah bagaimana munculnya tahi lalat tersebut?

Tahi lalat atau nevus pigmentosus merupakan pertumbuhan kulit yang kecil, biasanya berwarna coklat tua atau hitam, kadang ada juga yang merah ataupun kuning coklat. Benda itu berasal dari sel-sel penghasil pigmen melanosit di kulit.

Tahi lalat yang banyak tersebar di seluruh permukaan kulit tubuh kita juga seringkali digunakan para peramal untuk memprediksi karakter, masalah cinta, kehidupan seks, dan masa depan seseorang. ”Letak tahi lalat di perut sebelah kanan, menurut alam bawah sadar kami, adalah seseorang dengan gairah seks yang tinggi, dan untuk itu, dia perlu orang yang bisa menyeimbangi kemampuannya,” ujar seorang peramal maya mengenai letak tahi lalat yang ada di perut sebelah kanan.

Tahi lalat, atau dalam bahasa ilmiahnya sering disebut nevi, bukan hanya sesuatu yang manis dan menyenangkan, tetapi dia juga berpotensi untuk menjadi ganas dan liar. Tahi lalat dengan gejala tertentu dapat menyebabkan Melanoma maligna atau kanker kulit.

Munculnya tahi lalat pada manusia bukanlah proses yang dapat diduga dan tidak sesederhana meletakkan butiran kecil di kulit.Tahi lalat disebabkan oleh pertumbuhan dan perkembangan abnormal dari sel-sel pigmen melanosit yang letaknya ada di bawah kulit di bagian yang lebih dalam.

Keabnormalan ini tidak perlu ditakuti karena semua orang mengalaminya dan itu adalah normal. Umumnya tahi lalat muncul pada masa anak-anak hingga usia 20 tahun, tapi ada juga yang terbentuk selama proses perkembangan janin yang disebut dengan congenital melanonev. Bahkan ada pula yang baru tampak di usia 40 tahun.

Dalam perkembangannya, tahi lalat ini awalnya agak berwarna gelap dan tampak datar, semakin kita dewasa dapat semakin membesar serta mempunyai bentuk dan ukuran yang berbeda-beda. Kemudian menjadi menonjol dan kadang ada yang ditumbuhi rambut.

Adapun bentuk tahi lalat itu ada yang oval, bulat, tidak simetris dan macam-macam. Permukaan tahi lalat juga bervariasi, ada yang halus, ada pula yang kasar. Jumlah tahi lalat tiap orang berkisar antar 10 sampai 40 unit, bahkan ada yang memiliki hingga 100-an tahi lalat.

Ternyata, orang yang sering berjemur di bawah terik matahari memunyai kecenderungan memiliki lebih banyak tahi lalat. Pada wanita hamil, selama proses kehamilannya berlangsung, tahi lalat dapat tumbuh membesar serta bertambah gelap karena sel-sel pigmen memberikan respons terhadap kadar hormon.

Selain itu, faktor bawaan, usia dan hormon dapat juga memunculkan tahi lalat yang cukup besar, yang lebih dikenal dengan istilah ‘tompel’. Tompel dapat mengganggu penampilan seseorang apalagi jika berada di bagian wajah. Tahi lalat yang membesar itu biasanya juga diikuti keriput pada usia di atas 50 tahun.

Kaganasan nevi harus diwaspadai jika ukurannya bertambah besar, warnanya bertambah gelap atau tidak merata (tidak homogen), mengalami peradangan, perubahan warna dalam bentuk bintik-bintik, bentuknya tidak rata (tidak simetris), begitu juga dengan permukaannya, terjadi pendarahan, luka terbuka, gatal, nyeri, terletak pada bagian tubuhyang sering terbentur, tertekan, tergosok, atau tergores (seperti pada tangan, siku, telapak kaki), kemudian juga tempatnya tersembunyi di tempat yang tidak mudah dipantau (seperti di kulit kepala), atau juga kulit kita sering terpapar sinar matahari.

Menurut dr. Warih Andan Puspitosari, tahi lalat dengan gejala seperti di atas dapat berkembang menjadi tumor jinak atau kanker kulit (melanoma maligna). Melanoma maligna adalah yang paling berbahaya karena cepat menyebar melalui pembuluh darah, cepatberkembang biak di alat vital dan cepat pula menimbulkan kematian. Maka jika kita sudah mengenali adanya tanda-tanda seperti di atas, yang kemungkinan masih ditemukan di stadium awal dan secepatnya diobati, insya Allah bisa sembuh total. Kemudian jika masih ragu, sebaiknya langsung memeriksakan diri ke dokter kulit, apakah tahi lalat tersebut perlu diangkat (tentunya dengan operasi) atau tidak.

Terakhir, jika ada perubahan bentuk pada tahi lalat, secepatnya periksakan diri ke dokter kulit sehingga penanganan dini dapat segera dilakukan. Selamat menjaga kesehatan kulit Anda, semoga tahi lalat anda dapat ditangani lebih dini.